Iklan

Jeritan Hati Mahasiswa IAIN Kendari: Kampus Islami Mana yang Kalian Jual

Kamis, 13 November 2025, November 13, 2025 WIB Last Updated 2025-11-14T05:56:05Z


Oleh: Abdurrahman, Mahasiswa IAIN Kendari


KENDARI.NUSPOS.com- Hati siapa yang tak teriris melihat ironi di balik gerbang Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari. Di tengah gegap gempita rekor MURI dan kilauan ajang Duta Kampus yang diagung-agungkan, muncul pertanyaan yang menggelitik nurani: Ke mana perginya citra kampus Islami yang sejati?


Prestasi seremonial seperti pemecahan rekor atau pemilihan duta kampus memang terlihat membanggakan. Namun bagi sebagian mahasiswa, semua itu hanya sebatas pencitraan—kosmetik akademik yang menutupi wajah asli kampus yang mulai kehilangan arah. Fokus berlebihan pada popularitas dinilai telah menenggelamkan misi utama IAIN Kendari: mencetak generasi unggul dalam ilmu dan nilai keislaman.


“Rasanya sakit melihat kampus agama lebih sibuk mengejar panggung populer dan rekor yang tak berdampak substantif pada kualitas keagamaan kami. IAIN Kendari tampak tidak serius menyiapkan kami sebagai mahasiswa yang mumpuni dalam ilmu Islam,” ungkap penulis dalam refleksi pribadinya sebagai mahasiswa aktif.


Duta Kampus: Wajah yang Tak Lagi Islami


Fenomena pemilihan Duta Kampus menjadi contoh paling nyata dari pergeseran orientasi ini. Alih-alih menampilkan figur yang mencerminkan kedalaman spiritual dan intelektual, ajang tersebut justru lebih menonjolkan aspek penampilan dan kepopuleran.


Duta Kampus seolah menjadi simbol branding kosong—mewakili “kulit” kampus yang indah, namun rapuh di dalam. Padahal, kampus Islam semestinya memancarkan identitas keilmuannya melalui perilaku, akhlak, dan kemampuan intelektual mahasiswanya, bukan dari penampilan luar semata.


“Duta Kampus saat ini tidak mewakili kualitas keislaman kampus. Ia hanya merepresentasikan standar populer di luar sana. Ini seperti menjual bungkus yang indah, sementara isinya rapuh dari sisi keilmuan agama.”


Kembalikan Ruh Keislaman Kampus


Jika IAIN Kendari ingin kembali pada jati dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam, sudah saatnya berhenti mengejar sorotan publik semata. Spirit jihad intelektual harus kembali menjadi poros utama kehidupan kampus.

Kampus ini seharusnya menjadi ladang tumbuhnya intelektual Muslim yang berilmu, berakhlak, dan berdaya guna bagi umat—bukan sekadar pengumpul piala MURI.


Duta Dai Kampus: Solusi Relevan


Sebagai langkah nyata, sudah waktunya kampus mengganti konsep Duta Kampus menjadi Duta Dai Kampus.

Figur ini akan merepresentasikan mahasiswa yang memiliki kedalaman ilmu agama, kemampuan berdakwah, dan keteladanan akhlak. Mereka bukan hanya berprestasi di panggung, tapi juga berperan di masyarakat—membawa wajah Islam yang santun, cerdas, dan mencerahkan.


Dengan begitu, kampus Islam akan benar-benar layak disebut Islami. Sebab, citra kampus bukan diukur dari gemerlap acara, tetapi dari kualitas iman, ilmu, dan kontribusi lulusannya terhadap umat.



Laporan : Muhklas 

Komentar

Tampilkan

Terkini